Ketika kedewasaan mulai diminta.

Minggu ini adalah minggu yang melelahkan (yah biasanya tiap minggu juga melelahkan). Tapi minggu ini serasa semakin melelahkan dengan apa yang terjadi di tempat saya bekerja saat ini.
Seperti biasa saya berdoa agar minggu ini semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik.  Juga ada doa agar senin semua tim saya lengkap dan tidak ada yang terlambat. Karena saya harus mengemudikan mobil, otomatis saya tidak mendengar ada sms ataupun membacanya. Sesampainya di kantor barulah saya baca semua sms yang masuk.
Semua anggota tim tidak bisa masuk ataupun terlambat. Jujur, hal itu melemahkan semangat saya pagi itu.
Bagaimana tidak, saya sudah memprediksi bahwa minggu ini akan jadi minggu berat jika tim saya tidak lengkap.
Yang demamnya belum sembuh 4 hari, tangan keseleo dan masih diurut di kampung, ke supplier pagi hari, sakit. Tapi ada satu yng cukup membuat saya menjatuhkan diri ke kursi dengan lemah. Seorang anggota yang baru berumur 28 tahun harus ke dokter jantung karena malamnya berdebar2 dan sesak napas. With that age?. Bagaimana degan saya?
2 hari dia tidak masuk untuk check lanjutan. Di hari ketiga dia masuk. Tidak perlu menunggu saya tanyakan hasil diagnosisnya.
Dari percakapan itu saya menangkap bahwa dia hanya butuh lebih istirahat, kurangi rokok dan alcohol. Di hari kedua ada anggota tim lain yang menunjukan gambar di jejaring sosial memperlihatkan dia menenggak botol minuman. Saya sendiri tidak tahu apa dan merek apa, beralkohol atau tidak. Dan di posting jam 5 pagi.
Terlepas benar atau tidak, saya hanya berpikir anak ini belum dewasa.
Menurut saya, dimanapun kita dan apapun yang kita kerjakan, kita harus lebih dewasa untuk menjalankannya.
Semua yang kita kerjakan pasti ada tanggung jawab yang hal itu tidak mudah.
Saat masih bujangan kita pasti akan sangat bersemangat untuk menghabiskan weekend. Bahkan sampai larut minggu malam.
Biasanya kita akan mengantuk, capek karena kita tidak istirahat seperti seharusnya.
Efeknya jelas, kita jadi tidak produktif.
Kedewasaan bukan untuk masalah kerjaan, tapi juga pribadi.
Contoh tadi menunjukan kita tidak dewasa untuk memberikan istirahat untuk badan kita sendiri. Demam, sesak napas dan lain lain adalah efek yang jelas. Terlambat karena bangun kesiangan sudah hampir pasti jadi hidangan senin pagi di kantor.
Padahal masih banyak hal lain yang membutuhkan kedewasaan lebih.
Dari sini saya juga belajar untuk mendewasakan diri saya. Saya bisa saja marah, tetapi dengan kondisinya yang belum fit, saya ajak berdiskusi walaupun lebih ke monolog. Disini saya belajar menjaga diri dan emosi saya.
Semoga apa yang saya berikan bisa membuat dia berubah.
Sayang sekali dia gagal hanya karena dia tidak bertanggung jawab karena kurang dewasa menjalani hidupnya.
Semoga saya juga lebih dewasa lagi.
..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s