Memulai olah raga baru

Sejatinya saya selalu menyukai olahraga. Itu mengalir di darah saya, diturunkan dari kedua orang tua saya yang sangat menyukai olahraga. Saya suka semua olahraga, terutama sepak bola dan basket.

Sepakbola saya kenal seperti lazimnya anak laki-laki Indonesia yang memainkan olahraga ini dimana saja. Sejak kecil setiap sore selalu bermain bola. Hingga SMA saya sempat menjadi kiper utama di sekolah saya, padahal saya adalah anak kelas 1. Mungkin itu juga turunan papa yang menjadi kiper utama sekolah SMA nya dulu. Jersey no 1 saya pegang sampai kelas 2, itupun karena saya mengundurkan diri. Sadar kemampuan otak terbatas, orang tua anggota TNI yang jujur sehingga saya harus berusaha keras untuk masuk PTN (waktu itu UMPTN, dan sangat bangga bisa masuk kelas reguler lewat UMPTN). Saat masih aktif di latihan, saya hampir selalu muntah, karena porsi latihan yang diberikan. saya harus terbang sana sini untuk menangkap bola. terkadang saat sesi tembakan ke gawang, saya masih tergeletak di pinggir gawang. tapi dari situ saya bangga, karena saya mampu membawa SMA 48 juara dua se DKI dengan hanya 1 kali kebobolan dan itu lewat penalti yang sempat saya blok 2 kali. Sampai kuliah saya “naik pangkat” jadi bek. Namun untuk antar jurusan, saya tetap jadi kiper. Kalau internal saya selalu menolak menjadi kiper karena gak keringetan dan gak seru, karena gawang saya gak kebobolan (narsis sedikit boleh kan hehehe). Saya senang jadi bek karena banyak bergerak, harus pandai lihat arah bola dan pergerakan lawan, dan bertarung langsung secara fisik dan mental lawan striker. He might passed me, but not the ball, or the way around, and better both of them stay.. Sampai sekarang jamannya futsal di kantor saya lebih suka jadi bek. Puas rasanya membuat striker lawan frustasi tidak bisa melewati saya, minimal karena lapangan yang sempit dan karena badan saya yang besar hahaha. Di kantor saya sering di panggil matrix atau sanderos.. tahu kan siapa mereka.

Saat SMA saya kenal bola basket. Awalnya saya ingin masuk eskul basket. tapi ditolak karena saya tidak punya kostum basket. “sialan” dalam hati saya bilang saya tidak akan ikut lagi. Tuhan punya cara, saya tidak punya badan bagian atas yang besar, sehingga kadang saya kesulitan saat beradu diudara untuk memotong umpan ke striker lawan. Oleh karena itu saya di perintahkan ikut latihan basket. bertemulah kembali saya dengan basket. Ternyata saya cukup baik juga. Dengan cepat saya bisa bermain basket. Prestasi pribadi saya saat itu adalah bisa membuat pemain terbaik di sma saya diam dan frustasi karena harus menerima 5 blok dari saya dalam satu game. I have been able to beat 3 center on rebound. I will never forget that day. Everybody was standing at that time call up my name. Itulah hari orang mengenal saya, karena sebelumnya saya adalah orang yang kuper, sedangkan basket jaman itu olahraga yang sangat populer. From that day my friend call me “Hakeem” coming from Hakeem Olajuwon. Dari situ saya sangat suka dengan basket, saya menikmatinya. The fight, struggle, passion. Sampai kuliah saya pernah berujar “saya akan masuk tim basket jurusan saya di tahun kedua”. Tahun pertama saat mabim atau ospek, kami selaku junior harus mengundang senior untuk tanding olahraga. Salah satunya basket. Hari itu penuh kegembiraan, dan di akhir pertandingan saya melakukan dunk yang membuat semua orang kaget. Setelah itu saya dipanggil ikut latihan di Tim UI, karena senior saya adalah salah satu superstar di tim basket UI. Saya bisa bersaing dan memberikan warna dansparing partner untuk rekan-rekan saya. Walau saya bukanstarter, tapi saya selalu masuk dalam tim yang ikut kejuaraan sampai saya lulus. Senang saya bisa melebihi target saya, saya bisa masuk tim Universitas di tahun pertama saya.

Sejak itu basket tidak terpisahkan dari hidup saya. Di Jurusan, fakultas, universitas setiap ada kesempatan dan kejuaraan, saya ada didalamnya. Saya rela tidak kuliah demi basket, bela-belain ke luar kota tanpa ijin ortu demi basket.. I love the sport very much.

Setelah lulus saya masih bermain basket. Mencari teman baru. Mulai lap basket ABC senayan, kampur UNTAR cilandak sampai SMA PL. Sampai saya kuliah, istri masih memberi ijin untuk saya main basket.

setelah anak pertama lahir, mulailah kegiatan ini berkurang. hingga akhirnya setelah dia berusia 5 tahun, dia meminta saya untuk tidak bermain basket agar bisa bersama dia.

berhenti total… yup berhenti total..

Namun saya harus olahraga, kalau tidak perut bisa makin buncit.

saat ini saya selalu menemani sang pangeran untuk berenang sebagai ekskulnya. Bersamaan saya juga ikutan berenang. Walaupun bukan perenang profesional dan dengan gaya yang banyak salahnya, saya melakukannya dengan rutin. Demi kesehatan saya.

Saya tidak bisa jauh dari olahraga…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s